Berita Tabet

NYADRAN DUSUN KRAJAN DESA TABET

 TABET, 11 Februari 2022 ( 9 rajab )

Menurut sumber dari Wikipedia, Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakbanNyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran atau Ru wahan adalah:

  • Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.
  • Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.
  • Melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam.
Suasana Besik kubur/ Resik resik kubur di Makam Sewungu, Krajan Tabet.

dilanjutkan dengan Ziarah/ tahlilan dan doa bersama.

Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi. Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasnya berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal. Seusai berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya. Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Masyarakat membawa makanan saat prosesi nyadran dan makan bersama.

pada hari ini Jumat 11 Februari 2022 Dusun Krajan Desa Tabet-Limbangan- Kendal melaksanakan acara tradisi nyadranan berlangsung meriah penuh keakraban dan persaudaraan.

Nyadran dilakukan oleh masyarakat Dusun Krajan bersama Kepala Desa, Perangkat Desa, dan Babinsa, Bhabinkamtibmas melaksanakan tahlil diatas punden Mbh SUTA DIPA. Tahlil dan doa bersama bertujuan memohonkan ampun para leluluhur yang sudah berada di alam barzah dan memohon kepada allah swt agar Dusun krajan khususnya dan Desa Tabet pada umumnya diberikan kemakmuran, gemah ripah lohjinawe dan ketentraman, rukun masyaraktnya.

Menurut Kepala Dusun Krajan Tabet (Ponidi), bahwa kedepannya diharapkan tradisi ini tetap berkelanjutan, ungkapnya.

*

*

*

*

*